<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>BLOGNYA MAS TEGUH</title>
	<atom:link href="http://teguhdepok.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://teguhdepok.wordpress.com</link>
	<description>tempat jika anda ingin belajar tentang camera</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 May 2009 15:27:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='teguhdepok.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/054338f698a9f2b88a54755e71b8d4d4?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>BLOGNYA MAS TEGUH</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://teguhdepok.wordpress.com/osd.xml" title="BLOGNYA MAS TEGUH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://teguhdepok.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>TELEVISI DIGITAL</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/05/03/televisi-digital/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/05/03/televisi-digital/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 15:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Televisi Digital Televisi Digital (DTV) adalah satu jenis teknologi penyiaran melalui udara yang baru dan inovatif yang mengirimkan gambar melalui gelombang udara dalam bentuk bit data, seperti halnya komputer. DTV memungkinkan stasiun TV untuk dapat menyediakan gambar yang secara dramatis lebih jelas, berkualitas suara lebih baik dan pilihan program yang lebih banyak. DTV juga memungkinkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=238&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Televisi Digital  Televisi Digital (DTV) adalah satu jenis teknologi penyiaran melalui udara yang baru dan inovatif yang mengirimkan gambar melalui gelombang udara dalam bentuk bit data, seperti halnya komputer. DTV memungkinkan stasiun TV untuk dapat menyediakan gambar yang secara dramatis lebih jelas, berkualitas suara lebih baik dan pilihan program yang lebih banyak. DTV juga memungkinkan dilakukannya siaran berdefinisi tinggi (HD) bagi para pemirsa yang memiliki pesawat HD dan menyediakan kemampuan interaktif dan layanan data subtitle yang lebih baik.<span id="more-238"></span> Sistem penyiaran TV Digital adalah penggunaan apliksi teknologi digital pada sistem penyiaran TV yang dikembangkan di pertengahan tahun 90 an dan diujicobakan pada tahun 2000. Pada awal pengoperasian sistem digital ini umumnya dilakukan siaran TV secara bersama dengan siaran analog sebagai masa transisi. Sekaligus ujicoba sistem tersebut sampai mendapatkan hasil penerapan siaran TV Digital yang paling ekonomis sesuai dengan kebutuhan dari negara yang mengoperasikan.   2. FREKUENSI  Secara teknik pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital. Lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6 artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital dengan lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplek dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda.Selain ditunjang oleh teknologi penerima yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, TV digital ditunjang oleh sejumlah pemancar yang membentuk jaringan berfrekuensi sama sehingga daerah cakupan dapat diperluas. Produksi peralatan pengolah gambar yang baru adalah dengan menggunakan format digital.Teknologi digital efisien dalam pemanfaatan spektrum. Satu penyelenggara televisi digital meminta spektrum dalam jumlah yang cukup besar. Artinya tidak hanya 1 (satu) kanal pembawa melainkan lebih. Penyelenggara berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan yaitu untuk mentransfer program dari stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini.  Secara teknik pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6 artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital dengan lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplek dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya. Dengan demikian teknologi digital jelas lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum. Namun demikian trend yang ada yaitu satu penyelenggara televisi digital meminta spektrum dalam jumlah yang cukup besar artinya tidak cukup hanya 1 (satu) kanal carrier melainkan lebih. Karena dalam penyelenggaraannya nanti penyelenggara hanya akan berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan yaitu untuk mentransfer program dari stasiun-stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini.  Frekuensi TV digital terrestrial sama dengan frekuensi TV analog terrestrial yang ada dewasa ini, yaitu kanal VHF dan UHF. Menarik untuk disimak bahwa pada alokasi frekuensi tersebut 170 � 230 MHz dan 470 � 890 MHz sebetulnya alokasi frekuensi yang telah diberlakukan I.T.U untuk Region 3 (Asia Pasifik) tidak eksklusif untuk penyiaran, melainkan untuk : Fixed, Mobile dan Broadcasting. Padahal servis yang dapat ditawarkan oleh TV digital selain TV siaran, juga internet, komunikasi data, bahkan voice teleponipun bisa, mengingat kemampuan komunikasi duplex (dua arah) pun dapat dilakukan pada teknologi TV digital ini. Sehingga jika ada pihak-pihak yang menganggap frekuensi penyiaran dapat dipisah dengan frekuensi telekomunikasi, fenomena TV digital mementahkan anggapan tersebut. Fenomena TV digital merupakan salah satu contoh konvergensi antara Teknologi Info rmasi,Telekomunikasi dan Penyiaran.  Di negara-negara Eropa, kebutuhan jaringan akses penyiaran telah banyak dilakukan oleh TV satelit dan jaringan TV kabel yang relatif mempunyai jumlah kanal yang jauh lebih banyak dibandingkan TV analog terrestrial biasa. Dengan rencana transisi TV analog menjadi TV digital dalam jangka waktu yang telah disepakati, dan penambahan jumlah kanal TV dalam teknologi TV digital, maka negara Eropa merencanakan pula untukmenggunakan sebagian kanal frekuensi TV analog di UHF untuk menjadi &#8220;extention band&#8221; dari IMT-2000. Apalagi hal ini telah diperkuat oleh keputusan dari WRC-2000, Istanbul-Turki, yang membuka kesempatan negara-negara di seluruh dunia untuk memilih pita frekuensi 806 � 960 MHz, 1710 � 1880 MHz  dan 2520 � 2670 MHz sebagai &#8220;extention band&#8221; dari IMT-2000.  Oleh karena itu untuk antisipasi meningkatnya permohonan penyelenggaraan televisi dimasa depan dan agar lebih efisien maka dapat ditempuh suatu terobosan suatu kebijakan dalam pemanfaatan spektrum frekuensi, misalkan penyelenggara televisi digital hanya berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan televisi digital, sedangkan programnya dapat diselenggarakan oleh operator yang khusus menyelenggarakan jasa program televisi digital (operator lain). Dari aspek regulasi akan terdapat ijin penyelenggara jaringan dan ijin penyelenggara jasa sehingga dapat menampung sekian banyak perusahaan baru yang akan bergerak dibidang penyelenggaraan televisi digital. Dengan demikian akan dapat dihindari adanya monopoli penyelenggaraan televisi digital di Indonesia. Kelebihan Frekuensi TV Digital  Meningkatnya penyelenggaraan televisi dimasa depan dapat diantisipasi dengan suatu terobosan kebijakan dalam pemanfaatan spektrum frekuensi, misalkan penyelenggara televisi digital berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan televisi digital. Program dapat diselenggarakan oleh operator yang khusus menyelenggarakan jasa program televisi digital (operator lain). Dari aspek regulasi terdapat ijin penyelenggara jaringan dan ijin penyelenggara jasa sehingga dapat menampung sekian banyak perusahaan baru yang akan bergerak dibidang penyelenggaraan televisi digital. Perspektif bentuk penyelenggaraan sistem penyiaran di era digital mengalami perubahan baik dari pemanfaatan kanal maupun teknologi jasa pelayanannya. Pada pemanfaatan kanal frekuensi terjadi efisiensi penggunaan kanal. Satu kanal frekuensi yang saat ini hanya bisa diisi oleh satu program saja nantinya bisa diisi antara empat sampai enam program sekaligus. 3. KUALITAS PENYIARAN TELEVISI DIGITAL  Desain dan implementasi sistem siaran TV digital terutama ditujukan pada peningkatan kualitas gambar. TV digital memungkinkan pengiriman gambar dengan akurasi dan resolusi tinggi. TV digital memerlukan tersedianya kanal dengan laju tinggi. Sistem TV digital mampu menghasilkan penerimaan gambar yang jernih, stabil, dan tanpa efek bayangan atau gambar ganda, walaupun pesawat penerima berada dalam keadaan bergerak dengan kecepatan tinggi.                 1.                   Manfaat Penyiaran TV Digital      *        TV Digital digunakan untuk melihat simpanan program, (siaran interaktif).     *        Aplikasi teknologi siaran digital menawarkan integrasi dengan layanan interaktif seperti layanan komunikasi dua arah. Televisi digital dapat digunakan seperti [[internet]     *        Penyiaran TV Digital Terrestrial bisa diterima oleh sistem penerimaan TV tidak bergerak dan penerimaan TV Bergerak. Kebutuhan daya pancar TV digital juga lebih kecil dan kondisi lintasan radio yang berubah-ubah terhadap waktu (seperti yang terjadi jika penerima TV berada di atas mobil yang berjalan cepat).           2.             Transisi ke TV Digital  Pesawat TV analog tidak bisa menerima sinyal digital, maka diperlukan pesawat TV digital yang baru agar TV dapat menggunakan alat tambahan baru yang berfungsi merubah sinyal digital menjadi analog. Proses perpindahan dari teknologi analog ke teknologi digital membutuhkan sejumlah penggantian perangkat baik dari sisi pemancar TV-nya ataupun dari sisi penerima siaran. Transisi ke TV Digital menyebabkan tersedianya saluran siaran yang lebih banyak.  Proses transisi perpindahan meminimalkan resiko kerugian khusus yang dihadapi baik oleh operator TV maupun masyarakat. Resiko kerugian khusus yang dimaksud adalah informasi program ataupun perangkat tambahan yang harus dipasang. Perubahan dilakukan melalui masa dimana sebelum masyarakat mampu membeli pesawat penerima digital dan pesawat penerima analog yang dimilikinya dipakai menerima siaran analog dari pemancar TV yang menyiarkan siaran TV Digital.  Masa transisi diperlukan untuk melindungi pemirsa (masyarakat) yang telah memiliki pesawat penerima TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital dengan tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Operator TV yang sudah ada dapat memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun, seperti studio, bangunan, SDM dan lain sebagainya. Infrastruktur TV digital terrestrial relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan infrastruktur TV analog. Pola Kerja Sama Operasi ditempuh antar penyelenggara TV yang sudah ada dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi penyedia jaringan dan penyedia isi Alasan transisi utama adalah melindungi puluhan juta pemirsa (masyarakat) yang telah memiliki pesawat penerima TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital dengan tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Selain juga melindungi industri dan investasi operator TV analog yang telah ada, dengan memberi kesempatan prioritas bagi operator TV eksisting.  Keuntungan memberikan prioritas kepada operator TV eksisting adalah mereka dapat memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun, seperti studio, tower, bangunan, SDM dan lain sebagainya. Selain itu karena infrastruktur TV digital terrestrial relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan infrastruktur TV analog, maka efisiensi dan penggunaan kembali fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun menjadi sangat penting. Hal ini dilakukan di negara-negara maju yang telah mapan seperti Australia, Inggris, negara Eropa daratan, Amerika Serikat dan Jepang.  Walaupun demikian untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, maka dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV eksisting dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi &#8220;network provider&#8221; dan &#8220;program / content provider&#8221;. Dengan kemampuan efisiensi frekuensi 1 : 6, berarti bisa saja dalam kanal RF yang sama diisi 6 program stasiun TV yang berbeda. Tetapi satu hal yang harus diperhatikan bahwa apapun kebijakan yang akan diambil harus tetap melibatkan penyelenggara TV analog eksisting, industri televisi dan juga masyarakat. Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis. Dapat dibayangkan penyelenggara TV analog ini akan mengalami kebangkrutan di masa yang akan datang karena tidak bisa bersaing dengan penyelenggara TV digital. Selain itu jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, hal tersebut merupakan &#8220;inefisiensi pembangunan&#8221; besar-besaran, mengingat investasi untuk industri penyiaran luar biasa besar dan mahal. Masyarakat akan &#8220;terpaksa&#8221; membeli pesawat penerima TV digital selain pesawat penerima TV analog yang telah ada untuk dapat menerima seluruh program penyiaran baik TV digital maupun TV analog tanpa persiapan yang cukup. Hal-hal tersebut dipandang dari sudut ekonomi dan pembangunan nasional sangat merugikan ekonomi nasional secara keseluruhan, di saat bangsa ini harus membangun di bidang lain yang lebih tinggi prioritasnya, tetapi dana dihabiskan untuk investasi pembangunan TV digital yang tidak efisien dan tidak bijaksana.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=238&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/05/03/televisi-digital/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/04/04/237/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/04/04/237/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 10:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/2009/04/04/237/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=237&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://en.support.wordpress.com/affiliate-links/"><img width="468" height="60" border="0"></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/237/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/237/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=237&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/04/04/237/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INDONESIA SERBA DIGITAL TAHUN 2015</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/03/26/indonesia-seba-digital-tahun-2015/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/03/26/indonesia-seba-digital-tahun-2015/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Mar 2009 15:16:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (ANTARA News) &#8211; Indonesia paling lambat pada tahun 2015 akan serba digital untuk seluruh perangkat elekronik termasuk televisi. “Pada 2015-2016 Indonesia diharapkan sudah ‘totally digital’,” kata Direktur Jenderal SKDI (Sistem Komunikasi dan Diseminasi Informasi) Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Freddy H. Tulung, di Jakarta, Selasa. Ia mengatakan, pada 2015-2016 peralatan analog diperkirakan mulai ditinggalkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=224&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Indonesia paling lambat pada tahun 2015 akan serba digital untuk seluruh perangkat elekronik termasuk televisi. “Pada 2015-2016 Indonesia diharapkan sudah ‘totally digital’,” kata Direktur Jenderal SKDI (Sistem Komunikasi dan Diseminasi Informasi) Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), Freddy H. Tulung, di Jakarta, Selasa.<span id="more-224"></span> Ia mengatakan, pada 2015-2016 peralatan analog diperkirakan mulai ditinggalkan karena umurnya semakin tua dan tidak diproduksi lagi. “Kami bahkan mengharapkan lebih cepat dari itu karena setiap tahun kami ada evaluasi tahunan yang mengupayakan agar ‘totally switch off analog’ dengan digital,” katanya. Freddy mengemukakan terdapat tiga tahap untuk program digitalisasi seluruh peralatan di Indonesia. Sepanjang 2008 lalu pihaknya mengalokasikan waktu untuk sosialisasi peralatan digital. Pada 2009-2010 pihaknya mulai melakukan uji coba dan terus menyosialisasikan pada kawasan yang lebih luas. “Secara bertahap kami juga mulai menerbitkan izin-izin digital dan menghentikan untuk wilayah tertentu izin analog,” katanya. Pada periode 2012-2015, pihaknya akan memperlebar jangkauan digital untuk berbagai wilayah tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga kota sedang dan kota kecil. Maret 2009 ini misalnya, siaran televisi digital sudah mulai dapat disaksikan oleh masyarakat di Jabodetabek pada tahap awal. Siaran televisi digital atau penyiaran digital  merupakan jenis siaran televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio, dan data ke pesawat televisi. Televisi digital dikembangkan karena perubahan lingkungan eksternal, yaitu pasar TV analog sudah jenuh dan karena adanya kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel. Selain itu, faktor penyebab yang lain adalah adanya perkembangan teknologi terutama pemrosesan sinyal digital, teknologi transmisi digital, teknologi semukonduktor, serta teknologi peralatan yang beresolusi tinggi.(*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=224&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2009/03/26/indonesia-seba-digital-tahun-2015/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EDITING</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/editing/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/editing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 15:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cut to cut]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[editing]]></category>
		<category><![CDATA[linear]]></category>
		<category><![CDATA[NLE]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[BELAJAR EDITING Pada dasarnya, editing film dengan video tidak ada bedanya. Hal yang membedakannya, yakni pada aspek teknologinya. Karena dalam perkembangannya muncul teknologi digital, untuk lebih jelasnya dibedakan antara analog dan digital. Linear dan Nonlinear Editing Jika kita cermati, sebetulnya editing film yang kita saksikan pada umumnya menggunakan nonlinear editing karena di dalamnya memungkinkan terjadinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=180&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BELAJAR EDITING</p>
<p>Pada dasarnya, <a class="zem_slink" title="Film editing" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Film_editing">editing</a> film dengan <a class="zem_slink" title="Digital video" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_video">video</a> tidak ada bedanya. Hal yang membedakannya, yakni pada aspek teknologinya. Karena dalam perkembangannya muncul teknologi <a class="zem_slink" title="Digital video" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_video">digital</a>, untuk lebih jelasnya dibedakan antara analog dan digital.<span id="more-180"></span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">Linear dan Nonlinear Editing</span><br />
Jika kita cermati, sebetulnya editing film yang kita saksikan pada umumnya menggunakan <a class="zem_slink" title="Non-linear editing system" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Non-linear_editing_system">nonlinear editing</a> karena di dalamnya memungkinkan terjadinya penambahan atau pengurangan di sembarang tempat terhadap shot dan scene-scene yang ada. Secara umum untuk membedakan antara <a class="zem_slink" title="Linear video editing" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Linear_video_editing">linear editing</a> (analog dan digital) dan nonlinear editing terlihat pada aspek teknologinya. Ramang Syah menjelaskan, pada proses pengalihan editing <a class="zem_slink" title="Videotape" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Videotape">video tape</a> yang sangat mendasar adalah proses pengalihan/dubbing dari sumber material (original tape) ke edit master (<a class="zem_slink" title="Master recording" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Master_recording">master tape</a>). Untuk melakukan editing, hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan secara bertahap, yakni:</p>
<p><span>1) memilih gambar dan suara dari sumber materi dan tentukan bagian-bagian mana yang ditransfer ke master tape,</span></p>
<p>2) kemudian temukan bagian-bagian itu harus ditempatkan pada master tape,</p>
<p>3) untuk mendapatkan sequence yang tepat sesuai dengan naskah, bagian-bagian tadi harus ditempatkan pada ruang kolom yang sesuai,</p>
<p>4) sesudah itu informasi tadi dialih/dub dari sumbernya ke master tape, scene by scene. Sampai saat ini, belum ada keseragaman dalam proses rekaman gambar sehingga setiap produser mendesain dan membuat video tape recorder (<a class="zem_slink" title="Video tape recorder" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Video_tape_recorder">VTR</a>) menurut versinya masing-masing. Hal ini dapat kita jumpai pada format-format VTR yang banyak dipasarkan antara lain Format B, C, Umatic, <a class="zem_slink" title="Betacam" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Betacam">Betacam</a>, dan lain-lain. Saat ini yang dianggap paling tinggi kualitas gambar dan suaranya adalah digital VTR yang dirintis oleh Matsushita Panasonic dengan type AD 350 (kamera dan VTR digital pertama kali digunakan di Olimpiade Barcelona 1992).</p>
<p>VTR merupakan suatu mesin yang terdiri atas sistem elektronik dan mekanik yang digunakan saat rekaman, editing, dan penyiaran. Alat ini berfungsi merekam signal video dan audio kemudian memutar kembali kedua signal tersebut (play back) secara bersamaan (syncron). Selain kedua signal tadi, juga turut terekam signal pengontrol (CTL = <a class="zem_slink" title="Control track" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Control_track">control track</a> line) dan signal identifikasi/addres (<a class="zem_slink" title="Time code" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Time_code">TC</a> + time code) (Syah, 2000 : 1-2).</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Linear Editing</span><br />
Pada sistem linear editing, prosesnya dilakukan dengan cara langsung dan apabila terdapat kekurangan dan kesalahan, akan dilakukan pengulangan. Pada akhirnya, editing sistem ini menuntut peralatan yang besar dan bermutu untuk menjaga kualitas hasil yang sedang dikerjakan. Pada umumnya, peralatan semacam ini hanya dimiliki oleh kalangan tv penyiaran (broadcasting house) dan production house (PH) skala besar. Jika hasilnya belum sempurna, akan dilakukan pengulangan editing yang memakan cukup banyak biaya. Untuk kalangan pembuat film indie, sistem ini jarang dipakai.</p>
<p>Dalam sistem ini, seorang editor harus teliti dan cermat dalam mengedit. Jika terjadi kesalahan sedikit saja, pekerjaan yang hampir selesai bisa jadi harus diulang dari awal. Lantas apa yang membedakan antara analog dan digital?</p>
<p>Pengertian umum analog dari teknologi media audio visual adalah cara merekam yang dilakukan, baik ketika shooting video maupun saat mentransfer dari pita satu ke pita yang lain dengan perangkat kerjanya, merupakan proses perekaman gelombang cahaya secara berkesinambungan (kontinyu) menjadi satu bentuk kurva garis melengkung, seperti garis grafik yang lengkungannya bergantung pada tinggi rendahnya cahaya itu sendiri.</p>
<p>Adapun pengertian digital merupakan proses perekaman gelombang cahaya dengan pola terputus-putus on-off lalu on-off begitu seterusnya, sesuai dengan karakternya dari teknologi komputer, yang pada akhirnya menjadi satu bentuk kurva garis kotak-kotak yang juga membentuk grafik yang terdiri atas banyak kotak kecil (Sahid, 2000:1).</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Nonlinear Editing</span><br />
Sistem inilah yang kini banyak diminati kalangan indie karena di samping mudah juga murah dan bisa dilakukan di setiap PC. Edit sistem ini sering disebut juga dengan istilah digital video editing. Sistem ini juga bisa disebut dengan Random Access dari video dan audio ke dalam suatu media rekam berupa disk (disk storage) atau hard disk.</p>
<p>Penyimpanan data di hard disk sangat memudahkan pengolahan. Selama data masih tersimpan di dalamnya, seorang editor bisa berulang-ulang mengedit bagian yang kurang sempurna tanpa harus mengulang dari awal lagi. Selain itu jika hasilnya sudah final, bisa dikopi berulang-ulang dengan kualitas yang tetap. Jika menggunakan teknologi analog, hasil berupa kaset tidak akan tahan sampai lima generasi pengkopian.<br />
Langkah-langkah <a class="zem_slink" title="Non-linear editing system" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Non-linear_editing_system">non linear editing</a> adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Logging Artinya pada sistem nonlinear editing yang dicatat adalah time code in (angka perhitungan jalannya pita kaset) dan time code out dari sebuah shot secara utuh, dari klip awal hingga sutradara memutuskan cut pada sebuah shot. Pada umumnya, mesin nonlinear editing jenis apa pun memiliki keterbatasan dari hard disk yang sangat berhubungan erat dengan banyaknya gambar yang bisa disimpan dalam memorinya. Dengan keterbatasan ini, seorang editor harus betul-betul memilih shot yang baik. Selection of action sudah dilakukan pada tahap logging ini. Apabila ada kesempatan, alangkah baiknya editor melihat lebih dahulu materi shot yang akan di logging. Pada tahap ini dilakukan pengadministrasian yang efektif sebab ada hal-hal prinsip yang harus dilakukan dalam menuliskan deskripsi dari shot-shot itu. Pertama editor harus menulis terlebih dahulu nomor scene pada awal kalimat, kemudian disusul masing-masing dengan nomor shot, dan nomor take, baru disusul dengan nama tokoh (karakter) yang akan muncul pada gambar itu, setelah itu keterangan peristiwa apa yang dialami atau terjadi dengan tokoh itu.</p>
<p>2. Digitizing Yaitu proses memasukkan gambar dan suara yang sudah di- logging ke hard disk komputer. Sebelum pekerjaan ini dilakukan, editor harus memutuskan dahulu akan menggunakan audio video resolution (AVR) berapa, yaitu tingkat kualitas gambar seperti apa yang dibutuhkan dalam pekerjaan awal ini.</p>
<p>3. Editing Film Pada tahap ini, editor biasanya melakukan off line edit dahulu untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari program yang diedit. Namun dalam kegiatan nonlinear editing jika mesin yang digunakan kualitasnya baik seperti Avid, on line d a n off line dapat dilakukan sekaligus.</p>
<p>4. Redigitize Proses ini dilakukan dengan cara menggunakan edit decition list (EDL). Jika anda menggunakan mesin untuk off line berbeda dengan menggunakan mesin pada saat on line, kita harus menggunakan EDL dari time line yang sudah ada ketika membuat off line editing. Hal ini penting agar tidak terjadi perbedaan AVR di dalam satu time line, yang menyebabkan komputer tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya (Sahid, 2000: 5).</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Pedoman Pemotongan (Cuting)</span><br />
Pemotongan adalah lang,kah lanjutan setelah proses capturing dilakukan. Pemotongan dilakukan terhadap gambar redundan yang berupa</p>
<p>1) bidikan-bidikan yang terlampau pendek yang disebabkan suatu kesulitan atau hal-hal lain pada saat pengambilan gambar. Umpamanya ketika juru kamera mengadakan pengambilan gambar lantas pandangannya terhalang oleh orang ramai,</p>
<p>2) hasil pengambilan panning yang kurang stabil serta pencahayaan yang terlampau terang atau terlalu gelap,</p>
<p>3) bidikan yang terlampau panjang harus dibuang sebagian karena ini dapat membuat penonton jemu,</p>
<p>4) gambar-gambar yang kurang tajam (out of focus) jika hal ini tidak disengaja,</p>
<p>5) hal-hal yang dirasakan mengganggu kelancaran isi cerita</p>
<p><span>sumber:<a href="http://elearning.unej.ac.id/courses/SSI1037/document/Materi/009_teori_editing.pdf?cidReq=SSI1037">kuliah online</a><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=180&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/editing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TATA CAHAYA</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/tata-cahaya/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/tata-cahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 15:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[lampu]]></category>
		<category><![CDATA[lighting]]></category>
		<category><![CDATA[tatacahaya]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Cahaya dan Pencahayaan sumber:www.dikiumbara.com Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara sederhana ada dua jenis sumber pecahayaan, yakni pencahayaan alami (natural) dan pencahayaan buatan(artificial). Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis yang diterima oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=176&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:16pt;" lang="FI">Cahaya dan Pencahayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">sumber:www.dikiumbara.com</p>
<p style="text-align:center;"><em>Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara sederhana ada dua jenis sumber pecahayaan, yakni pencahayaan alami (natural) dan pencahayaan buatan(artificial).</em></p>
<p style="text-align:left;">Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis yang diterima oleh indera penglihat (mata) yang kemudian diteruskan ke otak yang akan merespon, menanggapi ransangan cahaya terebut. Sederhanya, tanpa cahaya maka benda tidak akan kelihatan. Atas dasar itulah, produksi film dan video memerlukan cahaya agar subyek bisa terlihat.</p>
<p>Pencahayaan televisi dan film memiliki fungsi-fungsi berikut:<br />
• Menyinari obyek/subyek<br />
• Menciptakan gambar yang artistik,<br />
• Menghilangkan bayangan yang tidak perlu<br />
• Membuat efek khusus.<span id="more-176"></span></p>
<p>Menyinari objek artinya memberikan pencahyaan agar objek atau subjek bisa terlihat jelas sesuai konsep film itu sendiri. Tidak semua bayangan itu diperlukan dan tidak semua bayangan tidak diperlukan. Dengan pencahayaan tetentu bayangan bisa dihilangkan, dikurangi,atau bahkan ditambah. Perlu tidaknya bayangan atau shadow, lagi-lagi sangat tergantung dari konsep film itu sendiri.</p>
<p><em><strong>Three Points Lighting</strong></em><br />
Ini sudah menjadi rumusan atau formula dasar sebuah pencahayaan dalam produksi video, film, dan foto. Tiga poin penting itu terdiri atas : <em>Key Light, Fill Light, Back Light.</em></p>
<p>Key Light adalah pencahayaan utama yang diarahkan pada objek. Keylight merupakan sumber pencahayaan paling dominan. Biasanya keylight lebih terang dibandingkan dengan fill light. Dalam desain 3 poin pencahyaan, keylight ditempatkan pada sudut 45 derajat di atas subjek.</p>
<p>Fill Light merupakan pencahyaan pengisi, biasanya digunakan untuk menghilagkan bayangan objek yang disebabkan oleh key light. Fill light ditempatkan berseberangan dengan subyek yang mempunyai jarak yang sama dengan keylight. Intensitas pencahyaan fill light biasanya setengah dari key light.</p>
<p>Back Light, pencahayaan dari arah belakang objek, berfungsi untuk meberikan dimensi agar subjek tidak “menyatu” dengan latar belakang. Pencahyaan ini diletakkan 45 derajat di belakang subyek. Intensitas pencahyaan backlight sangat tergantung dari pencahayaan key light dan fill light, dan tentu saja tergantung pada subyeknya. Misal backlight untuk orang berambut pirang akan sedikit berbeda dengan pencahayaan untuk orang dengan warna rambut hitam.</p>
<p>Selain 3 poin pencahayaan tadi masih ada jenis pencahyaan lainnya, yakni Background Light dimaksudkan agar setting/panggung tetap bisa kelihatan dengan baik.</p>
<p><em><strong>Arah Cahaya</strong></em><br />
Arah cahaya dari pencahayaan akan bergantung pada ketinggian dan sudut dari sumber cahaya tadi. Dari atas, bawah, atau rata dengan obyek? Dengan demikian kita akan tahu bayangan yang dihasilkan cahaya tadi jatuh dimana. Peletakan sumber cahaya di atas subyek akan menghasilkan efek yang berbeda jika dibandingkan dengan peletakkan sumber cahaya dari arah bawah subyek. Arah pencahyaan ini biasanya disebut sebagai down angle dan up angle. Dengan down angle akan menghasilkan bayangan yang jatuh kea rah tubuh (kalau subyeknya orang). Sebagai contoh, konsep down angle bisa dilakukan pada scene interograsi, akan kelihatan dramatis. Sedangkan up angle akan menghasilkan pencahayaan yang kurang lazim, namun dengan penempatan pencahayaan seperti ini subyek akan kelihatan powefull dan gagah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><a href="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/skema-lighting.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-367" title="skema lighting" src="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/skema-lighting.jpg?w=468&#038;h=468&#038;h=468" alt="" width="468" height="468" /></a></p>
<p class="MsoNormal">gambar dari <a href="http://www.dvxuser.com/">http://www.dvxuser.com/</a></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>Kualitas Cahaya </em></strong>Kualitas pencahayaan berkaitan dengan keras atau lembutnya pencahyaan itu sendiri. Secara garis besar ada dua kualitas pencahayaan, yaitu hard light dan soft light. Hard light mempunyai karakteristik pencahyaan yang kuat dimana shadow atau bayangan lebih terlihat jelas. Softlight memiliki karakter sebaliknya, antara pencahyaan dengan bayangan hanya memiliki perbedaan yang tipis.</p>
<p><em><strong>Rasio Pencahayaan</strong></em><br />
Lighting Ratio merupakan perbandingan antara brightness dan lightnest. Misalnya perbandingan 2:1, dimana pencahayaan area terang dua kali lipat dibanding area gelap. Teknologi video memungkinkan sampai pada rasio 4:1, area terang memiliki intensitas 4 kali lebih terang dibandingkan area gelap. Jika lebih dari itu, maka unsur detail bayangan atau shadow akan hilang.</p>
<p><em><strong>Kontrol Cahaya</strong></em><br />
Ini merupakan metode untuk menambah atau mengurangi pencahayaan dari sumber cahaya. Penambahan atau pengurangan ini untuk menghasilkan efek tertentu. Misalnya efek cahaya matahari yang memancar masuk pada jendela kamar tidur, digunakan <em>translucent</em> yang ditempelkan dekat sumber cahaya.</p>
<p><em><strong>Mengukur Intensitas</strong></em><br />
Intensitas cahaya yang yang dihasilkan dari key light, fill light,serta backlight bisa diukur oleh sebuah alat yakni Lightmeter. Ada dua jenis alat ini yaitu Incident and Reflectant. Incident diperuntukkan untuk mengukur intensitas cahaya yang “<em>jatuh</em>” pada subjek. Sedangkan Reflectant dipergunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipantulkan oleh subyek.</p>
<p><strong><em>Jenis-Jenis Lighting </em></strong>Banyak sekali jenis lampu yang digunakan dalam proses pengambilan gamar atau shooting. Jenis lampu itu terdiri atas :</p>
<ul>
<li>Blonde          :1000-2000 watt, biasanya digunakan sebagai pencahayaan flood untuk area yang luas</li>
<li>Readhead      : 650 &#8211; 1000 watt, digunakan sebagai key flood untuk area yang luas</li>
<li>Pepper Light : 100 &#8211; 1000 watt, lampu dengan intensitas rendah digunakan khusus untuk key atau fill light</li>
<li>HMI              : ini merupakan jenis lampu kualitas tinggi</li>
<li>Hallogen      : 100 &#8211; 500 watt, digunakan sebahgai key flood untuk area luas, jenis lampu ini biasanya digunakan untuk produksi dengan budgeting rendah.</li>
<li>Fresnell        : jenis lampu yang memiliki lensa khusus yang memancarkan cahaya</li>
</ul>
<p><em><strong>Temperatur Warna<br />
</strong></em></p>
<p><a href="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/colo-temp1.jpg"><img class="alignnone size-large wp-image-380" title="color temeprature" src="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/colo-temp1.jpg?w=468&#038;h=196&#038;h=196" alt="" width="468" height="196" /></a></p>
<p>Temperatur Warna merupakan kesan yang ditimbulkan oleh cahaya terhadap sebuah obyek ketika cahaya itu mengenai obyek. Ukuran temperatur warna dinyatakan dalam satuan derajat Kelvin (K). Semakin besar ukuran derajat Kelvin, maka warna obyek semakin putih, kebalikkanya maka obyek akan terlihat semakin menguning.</p>
<p><em><strong>Aplikasi</strong></em></p>
<p>Teori memang rada njelimet, bikin kepala nyut-nyutan. Tapi kawan, dengan dasar teori yang kuat, akan membantu kita di lapangan untuk “<em>mempercepat</em>” implementasi ide ke dalam tataran aplikatif. Demikian juga dengan tema cahaya dan pencahayaan kali ini. <em>Bersambung…. </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=176&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/tata-cahaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/skema-lighting.jpg?w=468&#038;h=468" medium="image">
			<media:title type="html">skema lighting</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dikiumbara.files.wordpress.com/2008/10/colo-temp1.jpg?w=468&#038;h=196" medium="image">
			<media:title type="html">color temeprature</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAKNA DI BALIK SHOT</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/makna-di-balik-shot/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/makna-di-balik-shot/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 01:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[broadcaster]]></category>
		<category><![CDATA[makna]]></category>
		<category><![CDATA[scene]]></category>
		<category><![CDATA[shot]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Ada Makna di Balik Shot (part 1) sumber:www.dikiumbara.com Melalui unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173). Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=169&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="SV">Ada Makna di Balik Shot </span></strong><span style="font-size:13pt;" lang="SV">(<em>part 1</em>)</span></p>
<p style="text-align:center;">sumber:www.dikiumbara.com</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span lang="FI">Melalui unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh</span></em><span lang="FI"> (Barthes, 1998:172-173).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Saya setuju dengan tesis yang dikemukanan ahli semiotika dunia <em>Roland Barthes</em> di atas, namun pada tulisan saya kali ini justru akan lebih banyak melihat dari makna pertama utamanya unsur visual (gambar) yakni makna denotatif. Penulis akan mencoba bagaimana makna-makna verbal itu dihasilkan dari sisi praktisi, si pembuat pesan (<em> sinematografer, videografer, filmmaker, videomaker, broadcaster</em>). Secara spesifik penulis akan mengurai ada makna apa di balik sebuah shot. Ketika kita menonton sebuah film atau tayangan televisi, sebenarnya kita sedang menyaksikan rangkaian <em>shot</em> dalam sebuah <em>scene</em>, dan rangkaian scene dalam sebuah <em>sequence</em>, dan seterusnya hingga kita melihat tayangan atau film secara utuh. <span id="more-169"></span>Disadari atau tidak disadari sebenarnya penonton telah disuguhi ratusan bahkan ribuan shot yang muncul silih berganti di layar televisi setiap harinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat dalam menciptakan rangkaian shot-shot tadi, sayangnya tidak semua pesan bisa disampaikan dengan baik dan celakanya hal ini karena ”kesalahan” dari si pembuat pesan. Shot semestinya tidak semata urusan <em>teknis mekanis</em> dan <em>estetis</em>,menyampaikan pesan akan ”<em>berurusan</em>” dengan falsafah, <em>the philosophy of the shot</em>. Wah serumit itukah? mari kita pahami sampai tuntas.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Belum ada kesepakatan tentang definisi yang benar-benar pas tentang apa itu sebenarnya <em>shot</em>. Ketika kita menekan tombol <em>rec</em> atau start sampai kita tekan sekali lagi tombol yang sama, maka itu adalah satu shot. Walaupun hanya satu detik atau bahkan sampai satu jam dari awal sampai akhir, baik bergerak maupun diam. </span><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>SHOT SIZE/Type of Shot<span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :</p>
<ul>
<li>ECU : Extreme Close Up (detail shot)</li>
<li>VCU : Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu</li>
<li>BCU : Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar</li>
<li>CU : Close Up, dari keapala sampai pundak</li>
<li>MCU : Medium Close Up,</li>
<li>Knee, 3/4Shot :</li>
<li>MLS : Medium Long Shot</li>
<li>LS : Long Shot</li>
<li>ELS : Extra Long Shot (extereme LS, XLS)</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Long Shots</span></strong><span lang="SV">, secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika :</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal">Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan      berjalan cepat</li>
<li class="MsoNormal">Ketika subjek</li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Untuk      menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Untuk      menujukkan progres</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Untuk      menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain </span><span lang="SV"> </span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Medium Shots, </span></strong><span lang="SV">type shot seperti ini yang paling umum kita jumpai dalam film maupun televisi. Jenis shot ini adalah paling aman, karena tidak ada penekanan khusus seperti halnya pada <em>Long Shots</em> dan <em>Close Shots</em>. Semua adegan bisa ditampilkan dengan netral di sini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Close Shots, </strong>televisi adalah <em>media close up</em>. <span lang="SV">Awalnya <strong><span> </span></strong>premis ini karena berkaitan dengan hal teknis. Pertama, acara dengan media televisi harus ditampilkan secara close up karena ukuran televisi yang kecil jika dibandingkan dengan layar di bioskop. Ke dua, berbeda juga dengan bisokop, acara televisi ditonton sambil lalu, akan lebih cocok menampilkan gambar-gambar dengan close shot/padat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Tapi,yang perlu dipahami juga justru makna-makna yang ditampilkan ketika shot-shot itu dibuat secara close up. Efek close up biasanya, akan terkesan gambar lebih cepat, mendominasi, menekan. Ada makna estestis, ada juga makna psikologis.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">MOVEMENT </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Terdapat paradoks dalam menciptakan <em>camera movement</em> untuk menghasilkan perubahan visual ketika mencoba membuat <em>invisible movement</em>. Secara teknis hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergesernya perhatian penonton. Caranya adalah dengan melakukan pergerakkan kamera yang mengikuti pergerakkan subjek. Tapi yang harus diperhatikan tentu saja adalah tujuan atau motivasi dari pergerakkan kamera itu dibuat. Secara umum, menurut Peter Ward dalam <em>Digital Video Camerawork</em>,<span> </span>motivasi itu antara lain :</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Untuk      menambah interest visual</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Mengekresikan      kegembiraan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Meningkatkan      ketegangan</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Memberikan      interes pada subjek baru</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Memberikan      perubahan angle/sudut pandang.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Secara khusus, ada dua kaidah dalam mengontrol camera movement, yakni menyesuaikan gerakkan dengan aksi subjek sehingga gerakan kamera akan distimulasi oleh aksi dan yang kedua adanya kebutuhan untuk menjaga komposisi yang baik selama pergerakkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Hampir di keseluruhan shot yang ditampilkan dalam film Emergency Room atau E.R. menggunakan konsep ini, dengan demikian efek dramatis tercipta sehingga penonton akan merasakan bagaimana suasana yang sangat dinamis di setiap ruang rumah sakit. Demikian juga di beberapa filmnya Rudy Soedjarwo, walaupun menurut saya masih terasa nanggung. Jadi, apa sebenarnya motivasi Rudy membuat film dengan konsep <em>handheld </em>tersebut ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">ANGLE</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Secara mekanis, angle atau sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri. Masih menurut Ward, ruang internal shot sering menonjolkan kualitas emosional dari adegan. Perspektif yang normal untuk membangun shot sering digunakan secara gamblang dan langsung. Tinggi lensa akan mengendalikan bagaimana penonton mengidentifikasi subyek. Lensa rendah akan mengurangi detail level latar belakang dan menghilangkan indikasi antara latar belakang dengan objek. Posisi lensa yang tinggi memiliki efek sebaliknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">Low Angle</span></strong><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">High Angle</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kebalikan dari low angle, akan mengakibatkan dampak sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Dengan mengetahui dampak pesan yang akan tersampaikan dari sudut pengambilan gambar ini, diharapan sinematografer atau videografer bisa mengkonstruksi shot-shot yang akan dibuat sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Satu sekuens yang sama akan dimaknai berbeda ketika pemlihan angle shot yan berbeda pula. Misalnya adegan demontrasi mahasiswa, rangkaian petama : 1.<em>long shot</em> para demontrans, 2. <em>high angle </em>demonstran teriak-teriak, 3. low angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. <em>high angle</em> demontran kesakitan, sedangkan rangkain ke dua : 1.<em>long shot</em> para demontrans, 2. <em>low angle </em>demonstran teriak-teriak, 3. <em>high angle</em> polisi sedang menggebuki demonstran. 4. <em>low angle</em> demontran.Dalam sekuens pertama, penonton akan memaknai rangkaian shot tersebut bahwa ada demontrasi yang dilakukan mahasiswa, polisi dengan superioritasnya bisa menangani aksi demontrasi itu dengan sikap represif, mahasiswa teretekan. Sedangkan dalam rangkain shot pada sekuens ke dua, penonton akan melihat demontrasi yang dilakukan mahasiswa walapun dijaga oleh para polisi, mahasiswa terlihat superior dan mendominasi bahkan lebih gagah dari para polisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Ya, ini baru satu aspek<span> </span>saja yakni dari <em>angle</em> atau sudut pengambilan gambar bisa mengahsilkan efek yang berbeda pada penonton. Jadi, angle menjadi elemen makna atau pesan. Pesan apa yang ingin disampaikan pemberi pesan ? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Secara detail, <em>Ward</em> mengemukan bahwa sudut lensa mana yang dipilih tergantung dari tujuan shot, yang terdiri atas :</span></p>
<ul style="margin-top:0;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Menonjolkan      subyek prinsip</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Menyediakan      variasi ukuran shot</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Memberikan      kelebihan tambahan terhadap subyek yang dipilih</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Menyediakan      perubahan sudut atau ukuran shot untuk memungkinkan terjadinya inter      cutting yang tidak menonjol</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Menciptakan      komposisi shot yang baik</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="FI">Meningkatkan      arah mata</span></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=169&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/11/19/makna-di-balik-shot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TELEVISI MASA DEPAN</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/11/televisi-masa-depan/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/11/televisi-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 14:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL TTG CAMERA]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[hdtv]]></category>
		<category><![CDATA[mpeg]]></category>
		<category><![CDATA[ntsc]]></category>
		<category><![CDATA[pal]]></category>
		<category><![CDATA[tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[HDTV ( High Definition Television ) merupakan media komunikasi baru dan teknologinya masih dalam proses penggarapan yang sangat ramai, terutama pada awal dekade ini. Secara singkat sejarah perkembangan HDTV dimulai oleh Jepang yang dimotori oleh pusat riset dan pengembangan NHK (TVRI/RRI-nya Jepang) pada tahun 1968, kemudian diikuti oleh Masyarakat Eropa sebagai pembanding dan akhirnya Amerika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=150&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/hdtv_logo.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-153" title="hdtv_logo" src="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/hdtv_logo.jpg?w=106&#038;h=96" alt="" width="106" height="96" /></a></p>
<p><span style="font-weight:bold;">HDTV ( High Definition Television )</span> merupakan media komunikasi baru dan teknologinya masih dalam proses penggarapan yang sangat ramai, terutama pada awal dekade ini. Secara singkat sejarah perkembangan HDTV dimulai oleh Jepang yang dimotori oleh pusat riset dan pengembangan NHK (TVRI/RRI-nya Jepang) pada tahun 1968, kemudian diikuti oleh Masyarakat Eropa sebagai pembanding dan akhirnya Amerika Serikat menjadi kompetitor yang harus diperhitungkan.<span id="more-150"></span> Diperkirakan bahwa teknologi HDTV ini akan menjadi standar televisi masa depan, sehingga seorang peneliti senior dalam bidang sistem strategi dan manajemen Dr. Indu Singh meramalkan bahwa pasar dunia untuk HDTV ini akan mencapai 250 billion dolar pertahun (tahun 2010). Untuk itu pada dekade tahun 1990 ini negara-negara maju telah dan sedang berusaha agar bisa membuat teknologi tersebut sehingga bisa menguasai pasar dunia (posisi strategis). Karena itu maka sekarang telah bermunculan berbagai standar, yang satu sama lainnya saling berbeda. Yang menjadi persoalan sekarang adalah bagaimana sebaiknya bagi negara berkembang ? Sebelumnya marilah kita simak dulu pengertian dasar dari HDTV dan prasarat idealnya.<br />
Apa itu HDTV ? HDTV dapat diartikan sebagai suatu sistem media komunikasi bergambar dan atau bersuara dengan tingkat kualitas ketajaman gambar (resolusi) yang sangat tinggi (hampir sama dengan kualitas film 35-mm/bioskop) dan kualitas suaranya juga menyerupai CD (Compact Disk). Dalam hal ini teknologi pemrosesan sinyal digital dan displai memberikan peran yang sangat penting. Diharapkan juga bahwa nantinya bisa melayani multi-bahasa dan multi media. Karena HDTV merupakan sistem komunikasi, maka seperti juga sistem komunikasi konvensional, untuk penyelenggaraannya memerlukan beberapa komponen dasar seperti pusat produksi (studio), pemroses/penyimpan. sistem transmisi dan pesawat penerima. Sistem Siaran Ideal Untuk dapat menyelenggarakan sistem siaran HDTV baik secara nasional maupun global yang ideal, diperlukan beberapa kriteria antara lain sebagai berikut :<br />
- Penggunaan sinyal standar yang sama (di dunia /dalam satu negara)<br />
- Biaya pesawat penerima yang murah /terbeli oleh khalayak<br />
- Kompatibel dengan sistem yang sudah ada<br />
- Bisa dihubungkan dengan media lain (multi-media)<br />
- Dapat terjangkau secara meluas (aspek pemerataan)<br />
Kompetisi Standar<br />
Disamping aspek pasar yang menggiurkan, dalam sistem penyelenggaran HDTV yang global mempunyai dampak yang luas pada bidang budaya, sosial politik sampai pada pertahanan. Karena itu negara-negara maju telah berlomba agar sistem yang mereka kembangkan itu nantinya dapat dipakai sebagai standar dunia (global). Standar yang telah masuk dalam agenda rapat CCIR( badan internasional yang menangani standarisasi sistem penyiaran), baru dua yaitu MUSE (Jepang) dan HD-MAC (Eropa). Sementara itu Amerika Serikat yang diatur oleh FCC (Komisi Komunikasi) sedang ditegangkan untuk memutuskan satu standar dari masing-masing team (konsorsium) yang sedang berkompetisi. Karena kepentingan masing-masing negara yang berbeda-beda apakah CCIR bisa memutuskan pemakain standar yang tunggal ? Pengalaman dari sistem TV konvensional yaitu adanya PAL/SECAM di Eropa &amp; ASEAN, NTSC di Amerika dan Jepang, rasanya sulit CCIR untuk bisa memutuskan pemakaian tunggal sistem penyiaran HDTV ini. Disamping itu juga ada badan standarisasi dibawah ISO yaitu MPEG (Kompas 25 April 1993, penulis yang sama) yang menangani standarisasi pengkodean dan pemampatan sinyal gambar bergerak. Untuk sinyal gambar dengan ketajaman tinggi (HDTV), sampai saat ini belum ada kesepakatan dan direncanakan diselesaikan pada tahun 1995.<br />
Negara Berkembang<br />
Setiap negara tentu saja menginginkan bahwa negaranya bisa maju dalam segala hal, termasuk teknologi HDTV. Bagi negara maju yang infrastrukurnya sudah lengkap yang menjadi masalah penerapan adalah kompetisi. Namun demikian bagaimana dengan negara berkembang yang infrastrukturnya masih terbatas (lihat idealisasi sistem siaran diatas) , apakah mau menciptakan standar sendiri ataukah mengikuti standar yang sedang dikembangkan oleh bangsa maju dan kapankah HDTV tersebut layak diterapkan?<br />
Karena tingkatan teknologi HDTV yang ada sudah demikian maju ,kemungkinan membuat standar sinyal sendiri hanyalah membuang waktu dan dana. Namun demikian kalau mengikuti standar lain harus bagaimanakah? Alangkah bijaksananya kalau negara berkembang bisa mempelajari sistem HDTV ini baik dari segi produksi, transmisinya, pesawat penerima bahkan sampai industri pembuatan komponen-komponen tersebut. Karena tanpa bisa memproduksi , negara tesebut akan selalu bergantung. Pertanyaan berikutnya lalu standar mana yang harus dipakai ? MUSE, HD-MAC atau ADTV-nya Amerika. Untuk menjawab pertanyaan ini dan sekaligus menyelesaikan persoalan-persoalan idealisai sistem penyiaran diatas kiranya diperlukan strategi dan pentahapan yang terpadu. Karena teknologi HDTV tidak semata-mata teknologi televisi saja, maka demi keterpaduan sebaiknya di dalam pengkajian , maupun pengembangannya dilakukan oleh beberapa instansi dan industri yang terkait, seperti Telekomunikasi (TELKOM), Perguruan Tinggi, Pengkajian Teknologi (BPPT,LIPI), Industri elektronika (INTI, LEN,National, Elektrindo) , Kementrian Industri dan Perdagangan (Indag), dsb-nya. Sebagai contoh keterpaduan yang dilakukan di Jepang untuk pengembangan industri televisi yang dimulai dekade 50. Dengan dimotori oleh Pusat Riset dan Pengembangan NHK, Jepang memaksa industri-industri dalam negeri (SONY, Matsuhita, dll) untuk bisa memproduksi Televisi dan komponen terkait dengan orientasi mula pasar dalam negeri. Dengan dilaksanakan siaran secara langsung melalui media televisi upacara pernikahan kaisar (emperor) Akihito pada tahun 1959, meledaklah industri televisi di Jepang . Akhirnya seperti kita ketahui dengan baik bahwa Jepang telah bisa merajai teknologi televisi dan pasar dunia. , bahkan telah berhasil menayangkan program HDTV 8 jam sehari (mulai 25 Nopember 1991).<br />
Yang menjadi harapan Jepang selanjutnya adalah bahwa pasaran Hi- Vison-nya (HDTV) akan meledak pada pernikahan mahkota berikutnya Naruhito dengan Masako Owada pada bulan Juni ini. Namun ini masih menjadi pertanyaan karena harganya masih mahal (1.0 juta yen), sehingga<br />
sampai akhir Mei ini jumlah pesawat penerimanya baru sekitar 10.000. Para peneliti Jepang sedang berusaha habis-habisan untuk bisa mengeffisienkan komponen IC-nya sehingga diharapkan harganya menjadi murah. Contoh lain adalah Korea Selatan, mereka tidak terburu-buru mengadakan penyelenggaraan-nya disaat standar belum mapan, namun yang mereka kejar adalah bagaiamana memproduksi HDTV untuk bisa di ekspor, sehingga mereka mengirimkan ahli-ahli-nya yang bisa membu at HDTV ke Jepang , Eropa, Amerika. Kegiatan ini adalah merupakan konsorsium dari pemerintah dan industri-industri terkait seperti Golden Star, Samsung , Daewo, Korean Telocom dsb-nya. Proyek pengembangan produksi HDTV di Korea ini dimulai sejak tahun 1989, dengan biaya 100 milyar won, 60 prosen diantara-nya dikeluarkan dari kocek pemerintah. Target yang mereka harapkan adalah, konfigurasi dasar<br />
(prototipe) akan selesai dilaksanakan pada tahun 1993, sedangkan secara ambisius pada tahun 1995 nanti bisa membuat produksi secara masal. Kelihatannya sangat netral dan beralasan sekali ,saran seorang mantan peneliti dari NHK yang sekarang menjadi guru besar di salah satu perguruan tinggi di Jepang, yang menyatakan bahwa kalau negara berkembang ingin mengembangkan sistem siaran HDTV, maka yang perlu dibenahi dulu antara lain adalah , perbanyaklah ahli elektronika (pendidikan) dan yang terkait sehingga bisa membuat , menjalankan dan memasarkan industri elektronika secara mandiri. Menurut beliau kalau ini dikerjakan mulai sekarang dengan kerja keras (Gambate /bahasa Jepang), mudah-mudahan penyelenggaraan sistem siaran HDTV ini bisa dilaksanakan dalam kurun 10 tahun yang akan datang.</p>
<p>sumber:  <a href="http://kameramantv.blogspot.com">http://kameramantv.blogspot.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teguhdepok.wordpress.com/150/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teguhdepok.wordpress.com/150/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=150&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/11/televisi-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/hdtv_logo.jpg?w=106" medium="image">
			<media:title type="html">hdtv_logo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TIPS DAN TRIK MENGGUNAKAN KAMERA</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/07/tips-dan-trik-menggunakan-kamera/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/07/tips-dan-trik-menggunakan-kamera/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 00:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL TTG CAMERA]]></category>
		<category><![CDATA[handycam]]></category>
		<category><![CDATA[TIPS DAN TRIK]]></category>
		<category><![CDATA[cameraman]]></category>
		<category><![CDATA[kameraman pemula]]></category>
		<category><![CDATA[shot]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Hal hal tehnik dasar penggunaan kamera sebaiknya memang harus kita kuasai namun karena menyangkut bahasa teknis jadi perlu pemahaman lebih dalam,namun ada beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan dan sering kita alami dalam penggunaan kamera baik profesional maupun kamera rumahan,diantaranya: 1.Jangan sering menggunakan zoom Zoom adalah fasilitas yang memeng memudahkan kita untuk menangkap gambar lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=143&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/bc8a-sony_xdcam_ex_handycam_1.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-147" title="bc8a-sony_xdcam_ex_handycam_1" src="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/bc8a-sony_xdcam_ex_handycam_1.jpg?w=128&#038;h=90" alt="" width="128" height="90" /></a></p>
<p>Hal hal tehnik dasar penggunaan kamera sebaiknya memang harus kita kuasai namun karena menyangkut bahasa teknis jadi perlu pemahaman lebih dalam,namun ada beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan dan sering kita alami dalam penggunaan kamera baik profesional maupun kamera rumahan,diantaranya:<span id="more-143"></span></p>
<p><strong>1.Jangan sering menggunakan zoom</strong></p>
<p>Zoom adalah fasilitas yang memeng memudahkan kita untuk menangkap gambar lebih dekat tanpa kita harus mendekati obyek,tapi ada baiknya kita jangan selalu menggunakannya sebisa mungkin kita mendekati obyek atau jika memungkinan obyeknya mendekati kita,karena dengan menggunakan zoom maka menyebabkan gambar goyang dan sering tidak fokus,jika terpaksa gunakanlah tripod</p>
<p><strong>2.Jangan melawan suber cahaya</strong></p>
<p>Usahakan untuk selalu membelakangi sumber cahaya apalagi jika kita menggunakan kamera (handycam) yang menggunakan auto diagframa,biasanya diagframa selalu mengukur yang lebih terang,jadi akibatnya jika kita melawan cahaya obyek akan terlhat gelap (siluet),kalaupun terpaksa harus melawan cahaya usahakan obyek kita close up (zoom in).</p>
<p><strong>3.Durasi merekam yang tepat</strong></p>
<p>Ketika kita menekan tombol rec usahakan jangan terlalu cepat minimal 10 detik agar orang bisa menikmati gambar kita,dan juga jangan terlalu lama karena akan membuat orang bosan melhatnya kecuali obyeknya memang banyak itupun harus ada pergerakan kamera misalnya:zoom,pan dsbnya</p>
<p><strong>4.Edit by shot</strong></p>
<p>Pikirkan ketika kita menekan tombol rec gambar kelanjutannya apa,karena dengan begitu memudahkan orang yang mengedit gambar apalagi editornya bukan kita,dalam edit by shot ini banyak hal yang kita harus pikirkan misalnya shot terakhir wide shot maka shot selanjutnya medium atau close up</p>
<p><strong>5.Ikuti pergerakan obyek</strong></p>
<p>Ketika mengambil gambar usahakan satu mata di viewfinder dan satu mata lagi melihat sekeliling obyek yang di ambil sehingga kita bisa mengantisipasi pergerakan obyek atau justru ada hal hal menarik di sekeliling obyek</p>
<p><strong>6.Usahkan memakai tripod</strong></p>
<p>Sebisa mungkin memakai tripod kecuali memang di butuhkan pengambilan gambar yang kondisinya tidak memungkinkan memakai tripod</p>
<p><strong>7.Kenali perangkat kamera</strong></p>
<p>Sebelum kita memulai menggunakan kamera untuk merekam usahakan pahami beberapa tombol/fungsi yang ada di kamera anda apalagi anda baru pertama kali menggunakan kamera tersebut,dengan mengenal dan memahami kamera tersebut dapat mengurangi kesalahan ketika mulai bekerja</p>
<p><strong>8.Jangan Pergunakan efek pada kamera</strong></p>
<p>Kamera kamera terbaru biasanya memang di berikan fasilitas fasilitas yang banyak,satu di antaranya adalah fasilitas efek gambar,misalnya efek strobo,efek sepia,efek stil foto dsbnya,untuk cameraman pemula biasanya sering banget menggunakan efek efek ini,namun ada baiknya jangan di pergunakan karena akan menyulitkan editor,lebih baik efek di berikan nanti pada saat editing</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teguhdepok.wordpress.com/143/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teguhdepok.wordpress.com/143/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=143&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/09/07/tips-dan-trik-menggunakan-kamera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/09/bc8a-sony_xdcam_ex_handycam_1.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">bc8a-sony_xdcam_ex_handycam_1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kamera pedestal</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/21/kamera-pedestal/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/21/kamera-pedestal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 15:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[BELAJAR CAMERA VIDEO]]></category>
		<category><![CDATA[CAMERA PEDESTAL]]></category>
		<category><![CDATA[multi kamera]]></category>
		<category><![CDATA[pedestal.camera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa element penting yang memberikan efek shot yang halus pada pergerakan pedestal adalah: 1.Kondisi lantai/floor studio 2.Lens angle 3.Pergerakan dan komposisi 4.Kondisi mekanik pedestal 5.Kabel kamera 6.View finder 7.Tempat untuk bergerak 8.Fokus 9.Koordinasi antara mata,tangan dan badan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=122&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/07/pedestal.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-123" src="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/07/pedestal.jpg?w=210&#038;h=167" alt="" width="210" height="167" /></a></p>
<p>Beberapa element penting yang memberikan efek shot yang halus pada pergerakan pedestal adalah:<span id="more-122"></span></p>
<p>1.Kondisi lantai/floor studio</p>
<p>2.Lens angle</p>
<p>3.Pergerakan dan komposisi</p>
<p>4.Kondisi mekanik pedestal</p>
<p>5.Kabel kamera</p>
<p>6.View finder</p>
<p>7.Tempat untuk bergerak</p>
<p>8.Fokus</p>
<p>9.Koordinasi antara mata,tangan dan badan</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teguhdepok.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teguhdepok.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=122&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/21/kamera-pedestal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://teguhdepok.files.wordpress.com/2008/07/pedestal.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kemampuan Dasar Bekerja dengan Multi kamera</title>
		<link>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/19/tes/</link>
		<comments>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/19/tes/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 15:42:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>teguhdepok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teguhdepok.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Pada bagian ini saya akan mengidentifikasi beberapa kemampuan yang di perlukan sebagai operator kamera yang bekerja dengan sistem multi kamera: (1-8) 1.Teknologi&#8211;&#62;harus mengerti teknologi dari kamera,karakteristik lensa dan mengatur OB/studio 2.Metode produksi&#8211;&#62;mengerti tehnik dan praktek produksi televisi 3.Kemampuan dasar&#8211;&#62; antisipasi,persiapan dan konsentrasi 4.Kemempuan mengoperasikan&#8211;&#62;dasar kamera dan pedestal 5.Kemampuan membuat gambar&#8211;&#62; posisi kamera dan lensa 6.Mengedit&#8211;&#62;mengetahui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=117&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bagian ini saya akan mengidentifikasi beberapa kemampuan yang di perlukan sebagai operator kamera yang bekerja dengan sistem multi kamera: (1-8)<span id="more-117"></span></p>
<p>1.Teknologi&#8211;&gt;harus mengerti teknologi dari kamera,karakteristik lensa dan mengatur OB/studio</p>
<p>2.Metode produksi&#8211;&gt;mengerti tehnik dan praktek produksi televisi</p>
<p>3.Kemampuan dasar&#8211;&gt; antisipasi,persiapan dan konsentrasi</p>
<p>4.Kemempuan mengoperasikan&#8211;&gt;dasar kamera dan pedestal</p>
<p>5.Kemampuan membuat gambar&#8211;&gt; posisi kamera dan lensa</p>
<p>6.Mengedit&#8211;&gt;mengetahui cutting point dan kesinambungan shot</p>
<p>7.Bekerja dalam tim&#8211;&gt; harus mengerti aturan cameraman ketika bekerja dengan kru lain dan produksi</p>
<p>8.Merekam dan transmisi&#8211;&gt;mengerti cara kerja multi camera dan prosedur pemancar</p>
<p>9.Komposisi&#8211;&gt; mengerti komposisi gambar</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teguhdepok.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teguhdepok.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teguhdepok.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teguhdepok.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teguhdepok.wordpress.com&amp;blog=3703434&amp;post=117&amp;subd=teguhdepok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teguhdepok.wordpress.com/2008/07/19/tes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">teguhdepok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
